Jumat, 06 September 2013

Satu Bangsa



New York City Oktober 2073
Tangan pria kurus itu mengepal keras, sesekali mulutnya menyenandungkan do’a. Matanya tajam menelisik setiap baris tulisan rapi yang terpampang di tablet kecil, di ujung jemari tangannya. Hatinya gamang, namun mulutnya mantap untuk berucap.
“Biar dunia tahu kami bisa dan kami ada, jadikanlah Allah pelindung kami”
Pagi itu musim dingin terlalu cepat hadir di kota New York, USA.

Jakarta
Kemal nampak rapi dengan baju safari yang baru di setrika istrinya pagi itu. Sambil menunggu sarapan roti panggang matang, dia menyeruput kopi susu gurih kesukaannya. Matanya lekat menatap layar datar yang menyiarkan berita nasional.
“ini roti nya mas” seorang wanita muda datang menghampiri kemal dan membawa roti hangat
“Simpan dulu dik,” dia hanya berkata, pupil matanya tetap tertuju pada layar datar itu.
“wulan pagi ini berangkat sendiri saja ke sekolah, toh sepulang mengajar wulan mau membimbing anak kelas 6” wanita muda itu menambahkan.
“Apa sebaiknya mas antar saja, nanti mas jemput lagi” kali ini matanya mulai beralih beradu pandang dengan sosok istrinya tersebut. Kemal tidak tega membiarkan istri tercintanya yang sedang hamil tua, harus berjejalan dalam bis kota. Walaupun ia tahu wulan adalah seorang perempuan yang mandiri dan keras kemauannya.
“Tidak usah mas, mas kemal pasti sibuk dengan urusan itu kan?” mata wulan mengisyaratkan agar suaminya kembali memperhatikan siaran berita nasional tersebut.
“ya sudah, hubungi mas kalau ada kesulitan ya” pikiran Kemal kembali fokus dan terbenam dalam setiap ucapan pembawa siaran.

Jakarta
“Tak mungkin la ini terjadi, it should not be happpened” seorang pria berperawakan tambun berteriak dalam bahasa melayu english yang sangat kental.
“ Tak mungkin mereka berani bertindak seperti ni!” dia kembali berteriak, kali ini kopi hitam di ujung meja ikut bergetar karena tangannya menghantam meja.
Remote televisi kembali me rewind siaran berita nasional pagi itu
Terdengar nyaring suara televisi membahana ke setiap sudut ruangan.
“ Berkas kasus  pengedar obat-obatan terlarang yang tertangkap oleh BNN satu bulan yang lalu sudah dalam tahap akhir persidangan di pengadilan tinggi” seorang anchor cantik nampak berbicara.
“Putusan pengadilan tinggi memutuskan bahwa terdakwa Riziq bersalah dan mendapatkan vonis hukuman mati karena terbukti membawa 5 kg shabu-shabu siap edar” anchor cantik itu menambahkan.
“Dan Presiden secara resmi melalui juru bicaranya mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan grasi kepada pelaku kejahatan yang terbukti bersalah. Apalagi terpidana narkoba, terorisme serta korupsi” giliran pria muda kelimis menimpali siaran dari anchor wanita tersebut.
“ah sialan!!” pria tambun itu kembali memaki, suaranya semakin keras membahana di seluruh ruangan.
“Tenang lah Pak cik, it’s negotiable, Pak cik tahu lah negara ini. Selalu ada ‘lubang’ yang bisa kita sulam” seorang pria berkacamata tebal berani datang menghampiri, menenangkan pria tambun yang dia panggil Pak Cik itu.
“it is absolutely ur duty Firman!! You are a lawyer of mine!” pak cik itu malah semakin keras menghardik.
“iya tuan Malik, saya akan cari celah” Firman menjawab hardikan itu dengan suara parau, hampir tidak terdengar.

Jakarta
Kemal datang pagi itu ke kantornya agak siang, dia memutuskan untuk mengantarkan istrinya terlebih dahulu. Dia berpikir biarlah sekali di tegur atasan, toh dia sudah berprestasi kemarin-kemarin ini.
Kantor kemal adalah gedung berlantai 7 di bilangan jakarta pusat. Di depan gedung itu terbentang lebar nama kantor  “BNN” Badan Narkotika Nasional. Sebuah badan independen yang bertugas mengurusi dan menangani peredaran narkotika dan turunannya di republik ini. Setara dengan DEA di USA.
Setelah memarkirkan mobil, Kemal tergesa-gesa melewati pintu masuk kantor kebanggaannya ini. namun tiba-tiba,“AKP Kemal Hariadi, anda di panggil oleh Bapak di ruangannya” seorang resepsionis cantik segera menghampiri Kemal dan menyampaikan pesan padanya.
Kemal terperanjat, dia tidak menyangka urusan telat masuk seperti ini bisa langsung di ketahui komandan tertingginya di lembaga itu. Maklum, ketika resepsionis berkata ‘Bapak’, yang dia maksud adalah Kepala BNN itu sendiri. Tanpa banyak polah, Kemal langsung berlari menuju lift dan memencet lantai paling tinggi di gedung itu.
Sesampainya di lantai atas, dia langsung dipersilakan masuk oleh ajudan pribadi Kepala BNN.
“Bapak sudah menunggu Pak” anak muda berperawakan jangkung membukakan pintu untuk Kemal.
Di ujung ruangan tampak seorang pria sedang menunduk membaca beberapa berkas dan Kemal memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“Siap Selamat Pagi Pak! AKP Kemal Hariadi mohon ijin untuk menghadap!” sikap tubuh yang tegap dia peragakan dengan sedikit meninggikan nada suara. Saat itu hatinya gaduh sekali membayangkan atasan tertingginya datang dan memaki keterlambatannya.
Pria itu memandang dan berkata “Selamat Kemal,,,!Tidakkah kau lihat berita pagi ini? Orang yang kau ciduk itu mendapat vonis mati oleh  pengadilan tinggi. Kerjamu tidak sia-sia perwira!”
Tak disangka, Irjen Pol Basuki Wiryawan yang juga kepala BNN malah berkata dengan suka cita, dia mengucapkan selamat atas vonis yang menimpa terdakwa pengedar shabu-shabu itu.
“Kerjamu bagus nak, teruskan. Ini akan menjadi kasus besar bagi republik ini, dan kita tidak pernah tahu akan mengarah kemana selanjutnya” kali ini tatapan jenderal bintang dua itu menerawang jauh melewati batas jendela.
“Siap pak, ini berkat petunjuk dan bimbingan komandan” Dengan menyembunyikan rasa lega, kemal bicara tanpa mengubah intonasi ucapan, tetap dengan postur tegak dan perwira.

Somewhere in Papua
Di sebuah hutan lebat tanpa cahaya di ujung timur Indonesia. Hutan hujan tropis yang rimbun, tempat para pohon tinggi berebut membentuk gurun. Enam orang laki-laki mengendap ngendap bagaikan macan, tanpa suara. Muka mereka legam oleh arang hitam bekas perapian saat sarapan pagi. Salah seorang dari mereka perwira paling senior menunjukkan aba-aba untuk berhenti berjalan.
“Buka peta dan bongkar alat navigasi lakukan resection dimana kita berada sekarang” ia memberi perintah lugas pada salah satu bawahannya.
“Albert, Deni, Greg, dan Rido, berpencar dengan jarak radius 10 m. Jaga perimeter di empat penjuru mata angin, laksanakan!” dia menambahkan perintah pada keempat prajurit sisanya.
“Laksanakan kapten!” dalam hitungan detik mereka sudah lenyap dari hadapan sang kapten.
Kapten itu adalah satu-satunya perwira dalam kelompok kecil tersebut, ia bernama Kapten Ridwan Siahaan. Mereka semua sudah berjalan hampir sembilan jam sejak matahari terbit. Tanpa lelah mengendus setiap petunjuk dan mencatat setiap isyarat. Mereka adalah kesatuan kecil dari pasukan khusus  TNI angkatan darat (KOPASSUS) yang ditugaskan membebaskan tawanan anggota TNI  dan 5 warga negara amerika yang telah di culik oleh gerombolan orang tak dikenal.
“Siap kapten lapor!”  Letda Hambali petugas yang diberi perintah untuk mengetahui posisi mereka memulai percakapan.
“Bagaimana Ham?” Kapten Ridwan bertanya tentang hasil pekerjaan Hambali
“Dari GPS posisi kita sudah terlalu jauh dari perbatasan dengan PNG (Papua New Guenuea), sekitar 5 kilometer dari tapal batas NKRI kapten” dengan tegas dan informatif letnan dua kopasus itu menjelaskan posisi pasukan kecil ini.
“Sial, harusnya aku tahu sejak kita melewati lembah dalam pukul 11 siang tadi itu” Kapten Ridwan mengutuk dirinya sendiri atas kecerobohannya itu.
Hutan lebat ini memang seharusnya dia kenali seperti dia mengenali halaman belakang rumahnya sendiri. Beberapa latihan militer sering dilakukan di hutan hujan papua ini, rentetan operasi militer pun selalu sukses dilaksanakan, bahkan sejak mengikuti pendidikan pasukan khusus dia mendapatkan wing penerjun di kawasan ini. Dia sempat “dibuang” sendiri di atas rimba papua dan nyatanya masih bernyawa kembali ke Jakarta.
“Perimeter! Kembali ke sini!” melalui radio komunikasi Kapten Ridwan meminta semua anggota yang menjaga perimeter kembali pada posisinya.
Setelah semua anggota kelompok kecil berkumpul, dia segera memberikan perintah yang mengejutkan.
“Buka semua atribut pasukan khusus, tinggalkan SS2 V5 (senapan serbu organik kopassus), setiap orang hanya membawa handgun  amunisi seperlunya, dan pisau komando”
Semua orang saling berpandangan dan menatap bertanya-tanya tentang perintah diluar kewajaran komandan mereka.
“Laksanakan!” dengan tegas Kapten Ridwan menyuruh anak buahnya melakukan setiap perintahnya
“laksanakan komandan!” mereka segera melucuti setiap atribut dalam tubuh mereka. lalu menanggalkan seragam loreng darah ciri khas kopassus, dan beberapa senapan serbu. Hanya berbalut kaus cokelat serta celana loreng yang sengaja dipotong tigaperempat, bahkan sepatu lars tinggi ditinggalkan.
“Kita jauh berada di belakang garis musuh, operasi ini lebih rumit dari yang kita duga” berbisik kapten muda itu menghembuskan penjelasan.

Langley, Virginia Markas Besar CIA
Dering suara telepon memecah kegentingan malam itu. Seorang pria kaukasian berbadan tegap dengan potongan rambut tipis mengangkat panggilan berisik dini hari tersebut.
“hallo, officer Mark di sini”
“Hallo sir, Jakarta mau melapor sir” suara merdu perempuan muda di ujung telepon yang mengaku dari Jakarta terdengar berbicara.
“Sebaiknya anda melapor hal yang baik nona, pukul 2 dini hari di sini” Mark menjawab ketus, tak terpengaruh oleh suara merdu tersebut.
“Laporan intelejen operasi di PNG (Papua New Guenuea) baru saja tiba sir, operasi itu berhasil sir semua subject sudah di lingkungan teritorial PNG sir” perempuan itu terdengar ceria menceritakan keberhasilan misi, dia harap berita baik ini menjadi penawar kekesalan officer Mark yang mengangkat telepon di pagi buta.
“Sudah seharusnya seperti itu miss” dengan dingin Mark kembali berkomentar
“Lakukan tindakan antisipasi, kemungkinan ‘mereka’ melakukan tindakan penyelamatan”
“affirmative sir”
“klik” Mark menutup gagang telepon, setidaknya dia bisa meneruskan sisa malam dengan tidur pulas di ruangannya, lantai dua markas besar CIA.
Mark adalah petugas senior di CIA, umurnya baru masuk kepala tiga dua bulan yang lalu. Setelah lulus dari West Point (Akmilnya Amerika) dia sempat di tugaskan beberapa tahun di Timur Tengah dan Afrika. Hingga akhirnya dia mendapatkan panggilan dari CIA badan intelegen amerika, mengawasi pergerakan gangguan keamanan di Asia Pasifik, khususnya Indonesia. Negara Kepulauan yang mulai menggeliat 50 tahun belakangan ini.

Jakarta
Firman nampak lusuh dalam balutan kemeja birunya sore itu. Suasana hatinya sedang kacau, sepertinya hari ini adalah hari terburuk dalam kariernya. Betapa tidak dia mengawali pagi dengan hardikan dari seorang klien penting di kantornya sendiri. Ditambah penolakan-penolakan yang yang dia terima dari para petinggi Mahkamah Agung untuk mengakali pembebasan anak kandung kliennya tersebut.
Firman adalah pengacara muda cemerlang, beberapa kasus kejahatan yang dia tangani memberikan hasil memuaskan dalam setiap putusan hakim bagi kliennya. Dia bahkan berhasil memotong masa tuntutan jaksa dari 20 tahun menjadi hanya lima tahun yang hakim voniskan, dalam kasus kepemilikan narkoba seorang artis ibukota.
Keharuman namanya membuatnya direkrut menjadi pengacara ketika anak salah seorang pejabat mancanegara berbuat ulah di Indonesia. Ya, anak seorang duta besar Malaysia tertangkap tangan oleh Badan Narkotika Nasional membawa 5 kilogram shabu-shabu. 5 kilogram, bayangkan. Jumlah yang sangat besar bila hanya untuk seorang ‘pemakai’.
Indikasi hukum menyebutkan bahwa Riziq bin Malik adalah pemain besar dalam peredaran narkotika di Indonesia. Dan perkara hukum ini sangatlah berat, sehingga setiap jalur hukum yang sudah di tempuh dari banding hingga kasasi dan akhirnya pengadilan tinggi tetap memutuskan bahwa Riziq tetap di hukum mati.
Hingga akhirnya dia harus menempuh jalan kotor itu. Sebenarnya dia sudah tahu jalan ini tidak akan berhasil. Karena di bawah pemerintahan baru sekarang ini, setiap tindakan yang menjurus pada aksi rasuah, korupsi, kolusi, nepotisme dan gratifikasi akan di hukum berat. Penguasa baru ini memang dikenal paling disiplin dalam peningkatan penegakan hukum.
Seperti yang sudah disebutkan, upayanya menyuap beberapa hakim agung terpental. Masih untung dia tidak diperkarakan. Dengan berat dia mengetik hasil kerjanya dalam sebuah akun email dan mengirimkannya kepada Duta besar Malaysia tersebut.
“your report, has been delivered. Dan aku dah selesai bacanya, bila anakku harus mati maka para polisi BNN itu pun harus”
Pesan singkat dari nomor tidak di kenal tiba-tiba datang tak lama setelah dia mengirimkan salinan laporan. Membaca pesan itu Firman semakin pusing dan kepalanya tertunduk lesu di kursi belakang sedan mewah.

bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar