Matahari berpendar riang siang itu, melotot memancarkan keceriaan tak bertepi bagi bumi.
Mengawali siang, aku berjalan gontai melalui selasar tembok putih bertiang kayu di rumah sakit.
Rutinitas yang semakin akrab dengan irama hidupku selepas lulus dari pendidikan.
Beberapa wajah lama masih meringis kesakitan tertidur di atas ranjang lusuh, ditambah wajah-wajah penghuni baru yang penuh harap.
Rautku masih sama, tak berubah, tidak ikut lusuh seperti mereka, pun tidak memberi pengharapan berlebih kepada mereka.
Aku ingin wajahku sesimetris mungkin dalam membagi antara perasaan empati dan logika berpikir sebagai seorang profesional.
Aku hempaskan badanku yang kurasa semakin kurus akhir-akhir ini, terbukti dengan sakitnya tulang ekorku menyentuh kursi kayu tanpa ada bantalan pantat yang cukup di sana.
Sebotol air mineral dingin berembun kusambar dan tandas seketika. Tumpukan kertas rekaman medis "tengadah" di meja nurse station, seorang perawat sudah selesai mencatat semua pekerjaannya disana, giliranku sekarang.
Satu-satu catatan medis itu aku baca, mulai dari kronologis seorang pasien sesak nafas sampai angka hitung enzim hati yang di minta seorang internist. Beralih pada setiap pasien, beralih pada setiap masalah, tepekur mencari bunyi peristaltik atau malah tersungkur karena tak mampu mendapatkan gambaran udara bebas pada foto rontgen.
Aku menulis beberapa hasil pemeriksaanku di atas kertas-kertas itu dan beberapa terapi serta saran pemeriksaan sesuai kebutuhan. Semua serba diperhitungkan dalam pekerjaan ini, dari tetesan infus yang tidak seharusnya dijadikan permainan oleh keluarga pasien, sampai dosis obat puyer untuk anak.
Tiba-tiba seorang perawat berlari bergegas ke arahku,
“Pasien anak X tak sadar, gusinya berdarah, tolong dilihat ”
Aku tercekat, memang belum semua pasien aku lihat siang itu, karena semua ada jatahnya saat aku berkeliling. Segera kurapikan catatan medis dan beranjak pergi mengikuti perawat tersebut.
Pasien anak dengan keadaan syok (keadaan turunnya curahan darah pada jaringan tubuh secara drastis dan merupakan suatu kegawatan) akibat demam berdarah. Setelah kuperiksa seksama dan secepatnya kutelpon penanggung jawab atas pasien tersebut, seorang pediatrician (dokter anak). Advis beliau sangat rinci dan salah satunya adalah memberikan perawatan intensif dan observasi ketat pada pasien tersebut, dengan kata lain harus masuk PICU (Pediatric Intensive Care Unit).
Sembari kukerjakan instruksi yang lain, aku meminta tolong pada perawat untuk menelepon PICU untuk menyiapkan ruangan bagi anak ini. Terburu-buru aku mendatangi orangtua anak tersebut menjelaskan detail kondisi anak mereka dan memberitahukan apa yang harus dikerjakan termasuk dialihrawatkan ke ruangan PICU, dimana keluarga akan sangat dibatasi untuk menjenguk, dan dimana biaya perawatan lebih tinggi daripada bangsal biasa. Terlepas orang tua anak itu mampu atau tidak, terlepas dari kebijakan pemerintah dalam jaminan kesehatan masyarakat, dan terlepas dari kebijakan administrasi rumah sakit, kondisi pasien itu HARUS masuk dalam ruang perawatan intensif.
Orang tua bersedia dan aku akan mulai menyiapkan pasien, namun tiba-tiba ada berita bahwa PICU tidak ada yang kosong. Semua full, bahkan rumah sakit sekota itu tidak ada ruangan intensif yang kosong.
Aku terduduk lemas, keringat dingin mengalir dari leher sampai punggungku. Kemungkinan lain adalah merujuk pasien ini ke ibukota provinsi, tapi sayang orang tua pasien nampaknya tidak sebersemangat aku dalam keputusan ini. Mereka lebih memilih menunggu sampai ada salah satu dari penghuni PICU di sini pulang ke bangsal perawatan biasa, pulang sehat ke rumah, atau “pulang” ke rumah Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa masalah “pulang” ini, buah hati mereka pun sedang dalam perjalanan itu.
Beranjak aku pergi melihat sendiri kondisi PICU saat itu, ya semua bed terisi pasien dan semua sudah pasti kritis. Aku memang tidak sampai diberi tanggung jawab untuk mengeluarkan salah satu pasien dari ruangan itu, karena setiap pasien memiliki dokter penanggung jawab masing-masing. Hanya saja andai aku memiliki kewenangan, bisa memilih mana yang boleh keluar dan mana yang silahkan masuk akan sangat teramat berat bagiku untuk melaksanakannya.
Sesaat aku teringat film Tom Hank “Saving Private Ryan” bercerita tentang satu grup komando pergi menembus garis pertahanan musuh hanya untuk menyelamatkan seorang prajurit muda bernama Ryan. Prajurit, ya hanya seorang prajurit bukan seorang jenderal. Karena itu perintah langsung dari Gedung putih maka Tom Hank (kapten Miller) dan para prajurit lain bergegas pergi menyelematkan Ryan, banyak yang gugur dalam tugas tersebut hanya untuk seorang prajurit. kapten Miller berkata “This Ryan better be worth it. He'd better go home and cure some disease or invent a longer-lasting lightbulb or something. 'Cause the truth is, I wouldn't trade ten Ryans for one Vecchio or one Caparzo.” Vecchio dan Caparzo adalah prajurit yang gugur dalam tugas tersebut.
Ya walaupun tidak persis sama, batinku tiba-tiba terpikir kisah tersebut, semua yang terbaring di sini adalah anak-anak, dan yang akan masuk pun anak-anak. Aku tidak bisa melangkahi Tuhan tentang apa yang akan mereka lakukan setelah mereka seusiaku nanti, setelah mereka sembuh nanti. Apa akan menyia-nyiakan kehidupan yang sangat berat dia peroleh ketika kesakitan saat ini. Yang pada dasarnya mereka semua berhak mendapatkan pelayanan ini.
Lamunanku lalu berpikir jauh, teramat jauh menembus bayangan kedua orangtuaku, kepada setiap orang yang ku ambil kesempatannya, kesempatan apapun itu. Aku berdiri saat ini, berpikir apakah aku layak hidup? Menghirup dua partikel oksigen semauku, memandang setiap bentang alam dan ciptaan Tuhan, mendengar melodi indah atau raungan menyayat hati, mengecap manisnya gula meringis asamnya cuka, mengaduh ketika terantuk batu, atau terlelap menikmati nikmatnya malam?
Apakah aku sudah seperti yang diharapkan orang tuaku? Seperti yang di inginkan orang-orang di sekelilingku? Sementara mungkin diantara anak-anak yang tergeletak di sini, ataupun jauh tergolek di benua lain, mereka bisa berjuang lebih kuat dan berkarya lebih hebat dari aku?
Ismaya akhir agustus 13
Mengawali siang, aku berjalan gontai melalui selasar tembok putih bertiang kayu di rumah sakit.
Rutinitas yang semakin akrab dengan irama hidupku selepas lulus dari pendidikan.
Beberapa wajah lama masih meringis kesakitan tertidur di atas ranjang lusuh, ditambah wajah-wajah penghuni baru yang penuh harap.
Rautku masih sama, tak berubah, tidak ikut lusuh seperti mereka, pun tidak memberi pengharapan berlebih kepada mereka.
Aku ingin wajahku sesimetris mungkin dalam membagi antara perasaan empati dan logika berpikir sebagai seorang profesional.
Aku hempaskan badanku yang kurasa semakin kurus akhir-akhir ini, terbukti dengan sakitnya tulang ekorku menyentuh kursi kayu tanpa ada bantalan pantat yang cukup di sana.
Sebotol air mineral dingin berembun kusambar dan tandas seketika. Tumpukan kertas rekaman medis "tengadah" di meja nurse station, seorang perawat sudah selesai mencatat semua pekerjaannya disana, giliranku sekarang.
Satu-satu catatan medis itu aku baca, mulai dari kronologis seorang pasien sesak nafas sampai angka hitung enzim hati yang di minta seorang internist. Beralih pada setiap pasien, beralih pada setiap masalah, tepekur mencari bunyi peristaltik atau malah tersungkur karena tak mampu mendapatkan gambaran udara bebas pada foto rontgen.
Aku menulis beberapa hasil pemeriksaanku di atas kertas-kertas itu dan beberapa terapi serta saran pemeriksaan sesuai kebutuhan. Semua serba diperhitungkan dalam pekerjaan ini, dari tetesan infus yang tidak seharusnya dijadikan permainan oleh keluarga pasien, sampai dosis obat puyer untuk anak.
Tiba-tiba seorang perawat berlari bergegas ke arahku,
“Pasien anak X tak sadar, gusinya berdarah, tolong dilihat ”
Aku tercekat, memang belum semua pasien aku lihat siang itu, karena semua ada jatahnya saat aku berkeliling. Segera kurapikan catatan medis dan beranjak pergi mengikuti perawat tersebut.
Pasien anak dengan keadaan syok (keadaan turunnya curahan darah pada jaringan tubuh secara drastis dan merupakan suatu kegawatan) akibat demam berdarah. Setelah kuperiksa seksama dan secepatnya kutelpon penanggung jawab atas pasien tersebut, seorang pediatrician (dokter anak). Advis beliau sangat rinci dan salah satunya adalah memberikan perawatan intensif dan observasi ketat pada pasien tersebut, dengan kata lain harus masuk PICU (Pediatric Intensive Care Unit).
Sembari kukerjakan instruksi yang lain, aku meminta tolong pada perawat untuk menelepon PICU untuk menyiapkan ruangan bagi anak ini. Terburu-buru aku mendatangi orangtua anak tersebut menjelaskan detail kondisi anak mereka dan memberitahukan apa yang harus dikerjakan termasuk dialihrawatkan ke ruangan PICU, dimana keluarga akan sangat dibatasi untuk menjenguk, dan dimana biaya perawatan lebih tinggi daripada bangsal biasa. Terlepas orang tua anak itu mampu atau tidak, terlepas dari kebijakan pemerintah dalam jaminan kesehatan masyarakat, dan terlepas dari kebijakan administrasi rumah sakit, kondisi pasien itu HARUS masuk dalam ruang perawatan intensif.
Orang tua bersedia dan aku akan mulai menyiapkan pasien, namun tiba-tiba ada berita bahwa PICU tidak ada yang kosong. Semua full, bahkan rumah sakit sekota itu tidak ada ruangan intensif yang kosong.
Aku terduduk lemas, keringat dingin mengalir dari leher sampai punggungku. Kemungkinan lain adalah merujuk pasien ini ke ibukota provinsi, tapi sayang orang tua pasien nampaknya tidak sebersemangat aku dalam keputusan ini. Mereka lebih memilih menunggu sampai ada salah satu dari penghuni PICU di sini pulang ke bangsal perawatan biasa, pulang sehat ke rumah, atau “pulang” ke rumah Tuhan. Mereka tidak mengerti bahwa masalah “pulang” ini, buah hati mereka pun sedang dalam perjalanan itu.
Beranjak aku pergi melihat sendiri kondisi PICU saat itu, ya semua bed terisi pasien dan semua sudah pasti kritis. Aku memang tidak sampai diberi tanggung jawab untuk mengeluarkan salah satu pasien dari ruangan itu, karena setiap pasien memiliki dokter penanggung jawab masing-masing. Hanya saja andai aku memiliki kewenangan, bisa memilih mana yang boleh keluar dan mana yang silahkan masuk akan sangat teramat berat bagiku untuk melaksanakannya.
Sesaat aku teringat film Tom Hank “Saving Private Ryan” bercerita tentang satu grup komando pergi menembus garis pertahanan musuh hanya untuk menyelamatkan seorang prajurit muda bernama Ryan. Prajurit, ya hanya seorang prajurit bukan seorang jenderal. Karena itu perintah langsung dari Gedung putih maka Tom Hank (kapten Miller) dan para prajurit lain bergegas pergi menyelematkan Ryan, banyak yang gugur dalam tugas tersebut hanya untuk seorang prajurit. kapten Miller berkata “This Ryan better be worth it. He'd better go home and cure some disease or invent a longer-lasting lightbulb or something. 'Cause the truth is, I wouldn't trade ten Ryans for one Vecchio or one Caparzo.” Vecchio dan Caparzo adalah prajurit yang gugur dalam tugas tersebut.
Ya walaupun tidak persis sama, batinku tiba-tiba terpikir kisah tersebut, semua yang terbaring di sini adalah anak-anak, dan yang akan masuk pun anak-anak. Aku tidak bisa melangkahi Tuhan tentang apa yang akan mereka lakukan setelah mereka seusiaku nanti, setelah mereka sembuh nanti. Apa akan menyia-nyiakan kehidupan yang sangat berat dia peroleh ketika kesakitan saat ini. Yang pada dasarnya mereka semua berhak mendapatkan pelayanan ini.
Lamunanku lalu berpikir jauh, teramat jauh menembus bayangan kedua orangtuaku, kepada setiap orang yang ku ambil kesempatannya, kesempatan apapun itu. Aku berdiri saat ini, berpikir apakah aku layak hidup? Menghirup dua partikel oksigen semauku, memandang setiap bentang alam dan ciptaan Tuhan, mendengar melodi indah atau raungan menyayat hati, mengecap manisnya gula meringis asamnya cuka, mengaduh ketika terantuk batu, atau terlelap menikmati nikmatnya malam?
Apakah aku sudah seperti yang diharapkan orang tuaku? Seperti yang di inginkan orang-orang di sekelilingku? Sementara mungkin diantara anak-anak yang tergeletak di sini, ataupun jauh tergolek di benua lain, mereka bisa berjuang lebih kuat dan berkarya lebih hebat dari aku?
Ismaya akhir agustus 13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar